Digitalisasi Dunia Pendidikan

Oleh : Wendy Fera, S.Pd.           

Digitalisasi dunia pendidikan adalah digunakannya teknologi digital dalam dunia pendidikan. Digitalisasi pendidikan bisa berupa penggunaan teknologi digital dalam pembuatan dokumen kurikulum, administrasi sekolah, hingga ke pembelajaran dengan siswa. Digitalisasi dalam dunia pendidikan sudah tidak dapat dielak lagi. Membuat kegiatan belajar dan mengajar menjadi serba digital harus segera dijadikan kewajiban bagi pendidikan di Indonesia.

            Pandemi Covid-19 telah memaksa siswa, guru, dan sekolah merasakan pendidikan yang berbasis teknologi digital. Hasilnya sesuai dengan prediksi, hampir semua pihak yang terlibat mengeluh kesulitan dengan sistem baru yang sifatnya darurat ini.

            Namun siap ataupun tidak siap, semua harus dijalani dengan baik. Dari semua itu, ada beberapa dampak positif yang dirasakan oleh para siswa dan guru, diantaranya:

  1. Pembelajaran lebih bervariasi.

Selama ini dalam pembelajaran di sekolah, umumnya dilaksanakan melalui metode ceramah oleh guru, dan siswa hanya mendengarkan saja. Pembelajaran yang Teacher-Centered seperti ini seharusnya sudah ditinggalkan sejak lama. Dengan digitalisasi, guru dapat membuat perencanaan pembelajaran dengan lebih bervariasi. Aplikasi pendukung pembelajaran online sudah tersedia di Internet dengan variasi yang beraneka ragam. Mulai dari membuat video biasa hingga membuat animasi untuk pembelajaran, semua tersedia. Kreativitas guru sangat menentukan disini. “Ditengah kondisi harus selalu dirumah, pembelajaran menggunakan media yang tepat serta penyampaian materi yang menarik juga dapat membuat para peserta didik semangat dalam kegiatan belajar mengajar.” (Gumelar dan Dinnur 2020:7)

       2. Sumber belajar lebih luas.

Sebelum adanya digitalisasi dalam dunia pendidikan, siswa hanya belajar dari buku yang disediakan oleh pemerintah, dan lembar kerja sebagai pendukung. Di era digitalisasi ini, siswa bisa belajar dari berbagai sumber dari internet. Materi yang diberikan oleh guru bisa dipelajari dengan sumber belajar yang bervariasi di internet. “Penggunaan search engine seperti google menjadi solusi bagi anak-anak untuk menyelesaikan tugasnya secara mandiri. Anak merasa penggunaan media massa memudahkan dalam pengerjaan tugas sehingga mereka dapat belajar mandiri dalam menyelesaikan tugas mereka.” (Wulandari, Santoso, Ardianti 2021:7)

         3. Waktu belajar siswa lebih flexibel.

“Dampak positif dari digitalisasi pendidikan di tengah pandemi adalah waktu belajar menjadi fleksibel. Anak dapat mengikuti proses pembelajaran daring dimana saja dan kapan saja.” (Wulandari, Santoso, Ardianti 2021:7). Selain itu, dengan digitalisasi pendidikan, anak tidak harus terpaku pada seragam dan tidak lagi harus dalam posisi duduk untuk waktu yang lama. Dalam belajar, siswa bisa dengan posisi tiduran atau dibarengi dengan olahraga kecil.

          4. Pembelajaran tidak harus dilaksanakan di ruang kelas.

Contoh nyata dari hal ini adalah di masa pandemi Covid-19 seperti sekarang. Siswa tidak datang ke sekolah tapi tetap bisa mendapatkan pelajaran dari guru melalui berbagai macam platform yang tersedia. Siswa bisa melaksanakan pembelajaran di rumah, di lapangan, atau dimanapun selama sinyal internet lancar.

            Namun begitu, digitalisasi tidak sepenuhnya menjadikan semuanya menjadi lebih mudah. Ada beberapa kekurangan yang terjadi selama praktik pembelajaran di rumah selama pandemi Covid-19 berlangsung, diantaranya:

  1. Guru dan orang tua masih banyak yang gaptek.

Tidak dapat dipungkiri bahwa siswa jaman sekarang sangat akrab dengan teknologi. Siswa tidak memiliki masalah apapun terkait teknologi, namun lain halnya dengan guru dan orang tua siswa. Sebagai pendamping belajar di era serba digital seperti ini, sebaiknya guru dan orang tua memiliki pengetahuan dan kemahiran teknologi yang lebih baik lagi sebagai pengawas kegiatan siswa.

         2. Kualitas internet di Indonesia masih belum merata.

Hal lain yang menjadi permasalahan adalah kualitas internet di Indonesia yang belum merata. Untuk pembelajaran di daerah perkotaan besar seperti Jakarta, Bandung atau Surabaya tidak ada masalah terkait kualitas internet. Tapi jika melihat di daerah kota kecil hingga pedesaan, banyak yang bahkan harus pergi hingga beberapa kilometer hanya untuk bisa mendapatkan sinyal. Selama kondisi masih seperti ini, akan sulit untuk melaksanakan digitalisasi pendidikan di Indonesia.

         3. Harga paket data yang masih mahal.

Selain kualitas internet, para provider seluler juga masih mematok harga yang tinggi untuk paket data di Indonesia. Rata-rata pengeluaran untuk biaya paket data siswa adalah 90ribu hingga 150ribu per bulan. Jumlah yang termasuk tinggi di masa pandemi.

         4. Banyak pengaruh buruk di internet

Internet menyajikan berbagai macam informasi, entah itu informasi baik ataupun buruk. Dengan terbukanya akses ke internet, siswa sangat rentan terkena dampak buruk dari internet, seperti porno, judi, hingga berbagai macam bentuk penipuan. Perlu adanya pengawasan dari orang tua maupun guru agar siswa tidak terpapar pengaruh buruk tersebut.

            Demikian tadi merupakan sisi positif dan negatif yang muncul di dalam kondisi digitalisasi pendidikan. Walaupun masih ada beberapa kekurangan, diharapkan pemerintahan semakin berbenah ke arah yang lebih baik lagi.